Khalil Ghibran mengatakan, “Anak
kita bukan milik kita. Dia akan hidup di satu zaman yang berbeda dengan zaman
kita.” Anak kita ibarat anak panah yang dilepas dari busurnya. Ia melesat ke
arah yang tidak diketahui oleh si busur.
Selasa, 08 Maret 2016
Selasa, 01 Maret 2016
06.27
Unknown
No comments
Saya kira pembaca sepakat bahwa waktu adalah salah satu bagian dalam hidup yang tidak dapat kita putar balik, tidak dapat berulang, dan tidak dapat berhenti. Karenanya kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya agar waktu yang berjalan tidak terbuang sia-sia. Waktu terus berjalan. Tahun ini bukan tahun lalu, bulan ini bukan bulan lalu, bahkan hari ini berbeda dengan hari kemarin, jam ini terus berlalu, sedetik tidak berhenti walau jam dinding dimatikan atau pun diputar mundur sebab matahari tetap dan terus berjalan.
Sabtu, 16 Januari 2016
14.25
Unknown
No comments
![]() |
| (Sumber gambar:cdn.kisahmuslim.com/wp-content/uploads) |
Bagi calon jamaah haji --manasik dilakukan secara rutin.Kalimat talbiyah diperdengarkan kepada calon tamu Allah itu. Jiwanya semakin dekat saja dengan masjidil haram, dan ingin segera “bertemu” Allah di tanah suci. Hati bergelora, berkecamuk rasa rindu kepada Sang Khaliq.
Tampak ada yang mengusap air mata. Ada yang mengucapkan kalimat Labbaik Allahumma labaik...dengan eskpresi serius. Seolah sudah berada di tanah suci.
Tergambar bagaimana bahagianya berada di bumi yang sangat dicintai Allah.
Setiap hari rukuk, dan sujud bersama orang-orang alim se dunia. Di Mekah dan Madinah, dijumpai hamba dengan ragam warna kulit, bahasa, asal
Negara, kultur dan tata cara yang tidak sama. Mereka ingin menghambakan
diri yang terbaik dan dalam anggapannya ingin menyampaikan
taubat yang maksimal atas dosa yang pernah dilakukan selama hidup.
Dengan hati suci
mereka berangkat. Dibuangnya rasa dengki,
benci, ria, sum’ah (ingin tersohor), dan hati tidak ikhlas. Lima macam jenis
hati jelek dihindari jauh-jauh, yaitu hati yang berpenyakit, hati yang keras,
hati yang membatu, hati yang mati serta hati yang terkunci rapat dari hidayah.
Semua diasah jauh hari sebelum berangkat. Justru sebaliknya, mereka menjaga
hati menjadi hati yang baik, yaitu hati yang menurut al-Qur’an apabila disebut
nama Allah, bergetar dan apabila disebut ayat-ayat-Nya, maka bertambah imannya.
Itulah kondisi jiwa para jamaah haji sejak manasik dilakukan.
Dengan “bekal” hati seperti itu, maka gelora kerinduannya
semakin tidak terbendung. Bertambah dekat hari “H” keberangkatan, semakin tak
terbendung kerinduannya kepada Allah. Maka, wajar kalau sebagaian dari mereka
ada yang sampai bermimpi dalam tidurnya, mimpi berasa di Mekah, mimpu bertemu
Rasul SAW, dan mimpi yang baik lainnya.
Semua jamaah haji bertekad untuk beridah dengan
sungguh-sungguh. Mereka terdorong pernyataan Nabi SAW yang mengatakan bahwa
shalat di Masjidil Haram mendapat keutamaan 100 ribu kali shalat di masjid
lain.
Sedang shalat di Masjid Nabawi mendapat keutamaan 1000 kali dari masjid
di tempat lain, di luar tanah suci.
Belum lagi, dua kota ini memiliki magnit
spiritual yang luar biasa, yaitu tempat-tempat mustajabah bagi muslim jika berdoa. Di Mekah ada Multazam,
Rukun Yamani, Maqom Ibrahim Hijir Ismail, Arofa, dll. Sedang di Madinah ada
Raudhoh sebagai tempat yang mustajabah bagi orang yang berdoa.
Maka, selama di tanah suci, setiap jamaah merasa sangat dekat
dengan Allah. Mereka tidak punya pikiran kotor.
Misalnya, ingin mengambil harta
orang lain, atau ingin melampiaskan hawa nafsu birahi kepada wanita lain yang
bukan muhrimnya. Hatinya tawadhuk, pandangannya merunduk, dan jiwanya selalu
terkontrol. Apalagi ada “ketentuan” bahwa seseorang yang memiliki hasrat
berbuat negative akan langsung diperingatkan oleh Allah, maka semuanya takut melanggarnya.
Bagaimana kalau menemukan sesuatu? Biasanya, mereka
menyerahkan kepada pihak berwenang, atau membiarkan barang tersebut berada di tempatnya. Yang sedikit “berani”
mengambil barang temuan tersebut tetapi tidak diambil sendiri, melainkan
diserahkan kepada pengemis, atau petugas kebersihan (cleaning service) di
masjid.
Dengan demikian, kerindun kepada Allah disertai dengan perilaku yang
benar. Alangkah indahnya kalau kebiasaan seperti ini dibawa ke negeri para
jamaah, termasuk Indonesia, maka tidak akan terjadi korupsi dan tindakan
kriminal lain. (*)
Kamis, 14 Januari 2016
15.12
Unknown
No comments
Tidak
semua orang diberi kemampuan melihat diri sendiri dengan baik. Ada orang yang
mampu melihat orang lain secara cermat, tetapi lemah melihat dirinya sendiri. “Hasibu anfsusakum qobla antuhasabu”.
Hitung-hitunglah dirimu sebelum engkau dihitung orang lain, begitulah pesan
Umar Ibnul Khottob RA.
05.16
Unknown
No comments
Dari berbagai referensi
diketahui, orang sakit jiwa itu tidak merasa kalau dirinya “sakit”. Mereka
menganggap orang normal seperti kita ini justru yang “aneh” karena tidak sama dengan
dirinya.
Rabu, 13 Januari 2016
15.03
Unknown
No comments
Guru... adalah
profesi yang mulia. Ada yang berpandangan bahwa “orang tua” itu ada tiga. Pertama, orang yang melahirkan kita. Yaitu bapak dan
ibukita. Ini posisi sentral yang tak terbantahkan dan tak terkalahkan. Agama
menjarkan kepada kita agar menaruh hormat, tunduk dan taat kepada mereka.
06.30
Unknown
No comments
Allah
adalah Zat Maha Pemberi. Nikmat yang diguyurkan kepada hambaNya tidak
terhitung. Waintaudu nikmatallahi latuhsuha (jika engkau akan menghitung nikmat
Allah mustahil bisa menghitungnya karena terlalu banyak).
Langganan:
Postingan (Atom)













