| (Sumber foto: oke.watch.com) |
Saya
kira pembaca sepakat bahwa waktu adalah salah satu bagian dalam hidup yang
tidak dapat kita putar balik, tidak dapat berulang, dan tidak dapat berhenti.
Karenanya kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya agar waktu yang berjalan
tidak terbuang sia-sia.
Waktu terus berjalan. Tahun ini bukan tahun lalu, bulan ini bukan
bulan lalu, bahkan hari ini berbeda dengan hari kemarin, jam ini terus berlalu,
sedetik tidak berhenti walau jam dinding dimatikan atau pun diputar mundur
sebab matahari tetap dan terus berjalan.
Dengan
kata lain, semua hamba berjalan, walaupun nampaknya duduk atau bahkan tidur.
Yaitu berjalan menuju akhirat. Di sana nanti hari akan dipanjangkan hingga sama
dengan 1000 tahun, bahkan bagi orang kafir satu hari sama dengan lima puluh
ribu tahun.
Dan kita pasti menuju ke sana. Ada yang menuju ke surga tapi
mampir dulu di neraka sementara. Satu menit di akhirat bisa berarti ribuan
tahun di dunia sekarang. Maka, jangan sia-siakan waktu. Gunakan waktu untuk
agama agar tidak kecewa kelak di hapadan Allah.
Kita
perlu mengatur penggunaan waktu dengan baik berupa kegiatan yang positif. Jika sekiranya
ada kegiatan yang tidak berguna alias mubadzir segera menggantinya dengan
kegiatan lain yang lebih berguna untuk menambah amal sholeh sebagai investasi
akhirat.
Apakah
waktu sudah dipergunakan dengan sebaik-baiknya? Untuk melukiskan perjalanan
waktu, ada baiknya menyimak
“dialog imajiner” antara seseorang dengan waktu. Apa saja yang dibicarakan? Berikut
petikannya.
Hai
menit, engkau mau kemana?
Aku sedang berjalan untuk melaksanakan tugas.
Kembalilah
sebentar, ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu.
Maaf, aku tidak boleh kembali. Aku harus terus
berjalan ke depan. Allah melarangku kembali ke belakang, jarak tempuh yang
harus kulalui masih panjang dan pasti. Tetapi khusus jatah waktu untuk dirimu tinggal
beberapa saat saja. Sebentar lagi waktumu akan segera berakhir.
Lho
sebentar lagi waktuku akan berakhir?
Iya. Sebentar lagi dirimu kutinggal dan aku
akan pindah ke tempat lain. Engkau akan membujur kaku di liang lahat seorang
diri. Di sana engkau akan ditanya tentang kebiasaanmu menyia-nyiakan waktu.
Malaikat ingin melihat mana yang lebih banyak penggunaan waktu untuk kebaikan
atau untuk dosa.
Orang yang memanggil menit tadi tertunduk. Dia menyesali
bahwa selama ini dirinya sering menyia-nyiakan waktu. Ia enggan melakukan kebaikan
seperti shalat berjamaah, puasa sunnah, membaca Al Quran, berdzikir, shalat
lail, menyantuni fakir miskin, dll. Sebaliknya dia sering mengisi perjalanan
waktu untuk berbuat dosa, lupa taubat, dan tidak peduli terhadap orang miskin,
anak yatim dan asyik dengan bisikan nafsunya yang mengajak berbuat maksiat
sehingga mengalami kerenggangan batin dengan Allah.
Menit,
kalau begitu kembalilah sekejab saja. Saya berjanji akan mengisimu dengan amal
sholeh.
Tidak bisa. Saya tidak boleh kembali. Saya
harus berjalan lurus ke depan. Tugasku melalui bentangan alam ini sampai
kiamat.
Engkau
dengar suaraku kan?
Ia, saya mendengar. Tapi maaf, aku tidak bisa
menuruti permintaanmu. Karena engkau selama ini telah menyia-nyiakanku.
Terinspirasi dari buku Efisiensi Waktu dalam Konsep
Islam karya Jasiem M. Badr Al-Mathowi)











0 komentar:
Posting Komentar